Cara menggambar Tema Agustus
https://youtu.be/-PKiUO6bd6I
Blog ini memberikan serba serbi informasi dari berbagai serbi dari informasi serba ada.
SEJARAH SMP NEGERI 3 CIMAHI
SMP Negeri 3 Cimahi didirikan pada tahun 2007 atas
dasar usulan masyarakat diwilayah Kecamatan Cimahi yang bertujuan agar wajib belajar
sembilan tahun diwilayah Rayon 3 Cimahi dapat dicapai dengan mudah karena jarak
yang tidak terlalu jauh. Ada beberapa faktor yang menjadi landasan masyarakat
disamping faktor jarak dengan didirikannya Sekolah Menengah Pertama di lingkungannya,
antara lain:
-
Mengurangi Resiko kecelakaan lalulintas,
karena lokasi sekolah yang tidak perlu menggunakan kendaraan bermesin dan tidak
dekat dengan jalan raya.
-
Keamanan anak didik lebih terjamin
-
Dapat mengurangi biaya transportasi anak
didik
Harapan Masyarakat akan adanya sekolah yang sangat
dekat dengan lingkungannya disetujui oleh pemerintah, terbukti dengan
didirikannya SMP Negeri 3 Cimahi. Sehingga sekarang antusias masyarakat di
Kecamatan Cimahi untuk dapat menyekolahkan anak -anaknya dengan harapan-harapan
diatas dapat terwujud.
KEADAAN
SISWA
Angkatan ke-1 dari SMP
Negeri Cimahi yaitu pada lulusan tahun 2010 berjumlah 73 siswa dan
mengalami peningkatan jumlah pada angkatan ke-2 yaitu tahun 2011 yang berjumlah
116 siswa, angkatan ke-3 Tahun 2012 berjumlah 162. Peningkatan jumlah siswa yang
sangat signifikan dari tahun ke tahun membuktikan bahwa para orang tua semakin
antusias untuk dapat menyekolahkan anaknya di SMP Negeri 3 Cimahi.
Pada Tahun 2023 semester genap
2023/2024 jumlah siswa semakin meningkat
siswa laki -laki 606 dan siswa Perempuan 612 total jumlah siswa 1.218
KEADAAN
PERSONIL
Pada Tahun 2012 SMP
Negeri 3 Cimahi dibawah kepemimpinan
Anugrah Hernawan, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah yaitu sebanyak 18 orang dibantu
tenaga administrasi sebanyak 4 orang dan 2 orang Penjaga Sekolah.
Pada tahun 2023 SMP
Negeri 3 Cimahi di bawah kepemimpinan Ibu Niken Apriani, S.Pd sekolah semakin maju
dan terus berkembang. Guru dan Tendik berjumlah
65 orang, Tenaga guru berjumlah 53 orang dan Tendik berjumlah 12.
Referensi : Sejarah SMP Negeri 3 Cimahi
| fahmyourspirit (wordpress.com)
Data Pokok SMP NEGERI 3 CIMAHI - Pauddikdasmen (kemdikbud.go.id)
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Esa atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penyelesaian Konflik dalam
Organisasi” ini dengan baik dan tepat waktu.
Makalah ini disusun sebagai salah
satu bentuk upaya penulis dalam memahami lebih dalam tentang pentingnya
pengelolaan konflik di dalam lingkungan organisasi. Konflik merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari dinamika organisasi, namun apabila dikelola dengan
tepat, konflik justru dapat menjadi pemicu inovasi, kreativitas, dan perubahan
positif dalam organisasi. Oleh karena itu, pembahasan mengenai penyebab,
dampak, serta strategi penyelesaian konflik menjadi sangat penting bagi
kelangsungan dan perkembangan suatu organisasi.
Dalam penyusunan makalah ini,
penulis banyak merujuk pada literatur-literatur yang relevan dan telah diakui
kredibilitasnya. Penulis juga menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak
terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi,
baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca guna penyempurnaan karya ilmiah ini di masa mendatang.
Akhir kata, semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya dalam memahami dan
mengimplementasikan strategi penyelesaian konflik yang efektif dalam lingkungan
organisasi.
Cimahi,
April 2025
Penulis
KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
1.2.Rumusan masalah................................................................................. 3
1.3.Tujuan & Manfaat.............................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Konflik .............................................................................. 2
2.2.Konflik dalam Organisasi ................................................................... 3
2.3.Teori -Teori Konflik ............................................................................ 5
2.4.Faktor Penyebab Konflik dalam
Organisasi………………………….7
2.5.Strategi Penyelesaian
Konflik………………………………………...8
3.1.Kesimpulan......................................................................................... 10
3.2.Saran................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA
Konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan organisasi. Setiap organisasi terdiri dari individu-individu yang
memiliki latar belakang, kepentingan, nilai, dan tujuan yang beragam. Perbedaan
ini dapat menjadi sumber kekuatan, namun juga berpotensi menimbulkan ketegangan
atau pertentangan yang dikenal sebagai konflik. Dalam konteks organisasi,
konflik dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari konflik antar individu,
antar kelompok, hingga konflik antara karyawan dan manajemen. Jika tidak
dikelola dengan baik, konflik dapat menyebabkan disfungsi dalam komunikasi,
menurunnya produktivitas, melemahnya loyalitas karyawan, dan bahkan merusak
budaya organisasi.
Namun, konflik tidak selalu membawa dampak negatif. Bila
ditangani secara bijak dan profesional, konflik dapat menjadi motor penggerak
perubahan positif dalam organisasi. Proses penyelesaian konflik yang
konstruktif mampu meningkatkan keterbukaan komunikasi, memperkuat kerjasama
tim, serta menumbuhkan inovasi dalam menyelesaikan permasalahan organisasi.
Oleh karena itu, penyelesaian konflik dalam organisasi bukan hanya bertujuan
untuk meredam ketegangan, tetapi juga untuk membangun kembali hubungan kerja yang
harmonis dan meningkatkan efektivitas organisasi secara keseluruhan.
Dalam upaya menyelesaikan konflik, pemimpin organisasi,
manajer, serta seluruh elemen organisasi perlu memahami akar permasalahan yang
mendasari konflik, mengenali jenis-jenis konflik yang mungkin terjadi, serta
mampu menerapkan pendekatan dan strategi penyelesaian yang sesuai dengan
kondisi dan karakteristik organisasi. Pendekatan ini harus dilakukan secara
proporsional, adil, dan mengedepankan kepentingan bersama. Dalam setiap
organisasi, baik yang bersifat profit maupun non-profit, dinamika antar individu
maupun kelompok merupakan hal yang tidak terhindarkan. Interaksi ini seringkali
menimbulkan perbedaan pandangan, kepentingan, tujuan, bahkan nilai-nilai
personal yang dapat memicu konflik. Konflik dalam organisasi tidak selalu
berdampak negatif, karena pada tingkat tertentu konflik dapat memacu
kreativitas, inovasi, dan perbaikan sistem kerja. Namun demikian, konflik yang
tidak ditangani dengan baik dapat menurunkan produktivitas, menciptakan
lingkungan kerja yang tidak kondusif, hingga mengganggu kelangsungan
organisasi.
Penyelesaian konflik dalam organisasi memerlukan pendekatan
yang proporsional dan sistematis. Pemimpin organisasi dan para manajer dituntut
untuk memiliki kemampuan komunikasi, negosiasi, dan mediasi agar konflik dapat
dikelola menjadi peluang yang konstruktif. Oleh karena itu, penting untuk
memahami penyebab, jenis-jenis, serta strategi penyelesaian konflik agar
tercipta lingkungan kerja yang harmonis dan produktif.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengkaji secara
mendalam mengenai penyebab konflik dalam organisasi, teori-teori konflik yang
relevan, serta strategi penyelesaiannya secara sistematis. Harapannya, makalah
ini dapat memberikan pemahaman dan kontribusi positif dalam pengelolaan konflik
di lingkungan kerja agar tercipta suasana yang produktif, sinergis, dan
berorientasi pada pencapaian tujuan organisasi.
1. Apa
pengertian konflik dalam organisasi?
2. Apa
saja faktor penyebab konflik dalam organisasi?
3. Bagaimana
cara menyelesaikan konflik dalam organisasi secara efektif?
1. Menjelaskan
definisi konflik dalam organisasi.
2.
Mengidentifikasi penyebab konflik dalam organisasi.
3.
Menyajikan metode penyelesaian konflik secara
proporsional dan efektif.
Konflik dalam organisasi
adalah suatu proses yang terjadi ketika terdapat ketidaksesuaian antara dua
pihak atau lebih yang memiliki kepentingan, tujuan, nilai, atau persepsi yang
berbeda. Ketidaksesuaian ini dapat berkembang menjadi ketegangan, pertentangan,
atau bahkan konfrontasi terbuka apabila tidak segera dikelola dengan baik.
Menurut Robbins (2003), “konflik
adalah suatu proses yang dimulai ketika seseorang merasakan bahwa pihak lain
telah secara negatif mempengaruhi, atau akan secara negatif mempengaruhi
sesuatu yang menjadi perhatian individu tersebut.” Pernyataan ini
menunjukkan bahwa konflik bersifat subjektif dan bisa timbul hanya karena
persepsi terhadap ancaman atau ketidaksesuaian kepentingan.
Lebih lanjut, Davis dan Newstrom (1993) menjelaskan bahwa, “konflik
dalam organisasi merupakan kenyataan kehidupan kerja yang tidak terelakkan,
karena setiap individu memiliki kebutuhan dan tujuan yang berbeda-beda.”
Artinya, konflik bukan hanya tak terhindarkan, tetapi juga merupakan bagian
alami dari interaksi sosial di tempat kerja.
Konflik tidak selalu membawa dampak buruk. Bila dikelola dengan tepat,
konflik dapat menjadi pemicu munculnya solusi kreatif, inovasi, dan peningkatan
kualitas hubungan kerja. Oleh karena itu, pemahaman yang menyeluruh mengenai
konflik dan cara penyelesaiannya sangat penting dalam upaya menciptakan
organisasi yang produktif dan harmonis.
Konflik dalam organisasi merupakan fenomena yang
kompleks dan melibatkan berbagai elemen internal, seperti struktur organisasi,
sistem komunikasi, budaya organisasi, dan dinamika antar individu atau kelompok
kerja. Konflik ini dapat bersifat vertikal (antara atasan dan bawahan) maupun
horizontal (antar rekan sejawat), serta bisa bersumber dari masalah personal,
profesional, maupun struktural.
Menurut Rahardi (2014), "konflik dalam organisasi
terjadi ketika dua atau lebih individu atau kelompok merasa bahwa tujuan,
kepentingan, atau nilai mereka saling bertentangan dan tidak dapat dicapai
secara bersamaan." Dalam banyak kasus, konflik dalam organisasi bukan
hanya berakar pada perbedaan pendapat atau kepentingan semata, melainkan juga
dipengaruhi oleh ketidakseimbangan kekuasaan, komunikasi yang buruk, dan sistem
pengambilan keputusan yang tidak inklusif.
Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bebas
konflik, melainkan organisasi yang mampu mengelola konflik secara efektif.
Dalam pandangan Robbins (2003), konflik dapat diklasifikasikan sebagai
fungsional dan disfungsional. Konflik fungsional mendorong kinerja dan inovasi,
sementara konflik disfungsional menghambat produktivitas dan kerja sama.
Oleh
karena itu, penting bagi organisasi untuk memiliki sistem dan prosedur
manajemen konflik yang jelas, serta membekali para pemimpin dan anggota tim
dengan keterampilan komunikasi, negosiasi, dan resolusi konflik yang memadai.
Konflik dalam organisasi dapat diklasifikasikan
berdasarkan pelaku, ruang lingkup, dan sumber perbedaan yang terjadi. Robbins
(2003) membagi jenis-jenis konflik sebagai berikut:
Konflik ini terjadi dalam diri individu. Misalnya,
seseorang mengalami dilema antara tuntutan pribadi dan profesional atau antara
keinginan pribadi dan nilai-nilai organisasi. Konflik jenis ini sering kali
tidak tampak secara langsung namun dapat mempengaruhi performa individu secara
signifikan.
Konflik ini terjadi antara dua individu atau lebih
dalam organisasi, misalnya antar karyawan atau antara bawahan dan atasan.
Perbedaan gaya komunikasi, kepribadian, tujuan, atau persepsi sering menjadi
penyebab konflik ini.
Konflik yang terjadi di dalam satu kelompok atau tim
kerja. Misalnya, perbedaan pandangan dalam menyelesaikan tugas tim atau
ketidakseimbangan kontribusi antar anggota tim. Konflik ini jika dikelola
dengan baik bisa meningkatkan kreativitas tim, tetapi bila tidak ditangani
dapat merusak kerja sama.
Konflik antara dua kelompok atau lebih dalam
organisasi, misalnya antar departemen atau divisi. Persaingan sumber daya,
perbedaan tujuan, serta miskomunikasi antardepartemen sering menjadi pemicunya.
Konflik ini berisiko menimbulkan fragmentasi dalam organisasi jika tidak
diselesaikan secara sistematis.
Teori ini memandang konflik sebagai sesuatu yang
merugikan dan harus dihindari. Konflik dianggap muncul akibat komunikasi yang
buruk, kurangnya kepercayaan antar individu, atau kegagalan manajerial. Oleh
karena itu, penyelesaian konflik dalam teori ini lebih bersifat represif, yaitu
dengan menekan atau menghilangkan sumber konflik secara langsung (Robbins,
2003).
Berbeda dari pendekatan tradisional, teori ini
memandang konflik sebagai sesuatu yang alamiah dan tidak dapat dihindari dalam
kehidupan organisasi. Konflik dianggap dapat memberikan kontribusi positif
apabila dikelola dengan baik, seperti meningkatkan pemahaman antar individu dan
memperbaiki hubungan kerja (Rahardi, 2014).
Teori
ini mendorong munculnya konflik dalam jumlah tertentu agar organisasi tetap
dinamis dan inovatif. Menurut pandangan ini, konflik tidak hanya bisa diterima,
tetapi juga perlu ditumbuhkan secara konstruktif untuk mencegah stagnasi dan
mendorong pertumbuhan organisasi (Robbins, 2003).
Konflik dalam
organisasi adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari, karena organisasi
terdiri dari individu-individu dengan latar belakang, kepentingan, dan
pandangan yang berbeda. Konflik yang terjadi dalam organisasi dapat bersifat
konstruktif maupun destruktif tergantung pada cara penanganannya. Pemahaman
terhadap faktor penyebab konflik sangat penting agar organisasi dapat mengelola
konflik secara efektif.
1. Perbedaan Tujuan
Salah satu penyebab utama konflik dalam organisasi adalah perbedaan
tujuan antar individu atau antar departemen. Setiap unit dalam organisasi
biasanya memiliki target dan kepentingan sendiri, yang kadang tidak selaras
dengan unit lain.
Konflik terjadi ketika dua pihak atau lebih mempunyai tujuan yang tidak
selaras atau bertentangan satu sama lain dalam suatu organisasi
(Sutrisno, Edy. Manajemen Sumber Daya Manusia, 2010: 282).
2. Komunikasi yang Buruk
Kurangnya komunikasi atau
komunikasi yang tidak efektif dapat menyebabkan kesalahpahaman, yang pada
akhirnya memicu konflik. Informasi yang tidak tersampaikan dengan baik atau
berbeda persepsi juga menjadi pemicu utama.
Komunikasi yang tidak jelas,
informasi yang disalahartikan, atau tidak adanya komunikasi dapat memperbesar
peluang terjadinya konflik dalam organisasi
(Siagian, Sondang P. Manajemen Sumber Daya Manusia, 2008: 199).
3. Perbedaan Nilai dan Persepsi
Individu dalam organisasi memiliki
latar belakang budaya, pendidikan, dan pengalaman yang berbeda, yang membentuk
nilai dan persepsi masing-masing. Ketika nilai atau persepsi ini bertentangan,
konflik cenderung muncul.
Konflik sering muncul karena adanya perbedaan
nilai dan persepsi dalam menanggapi suatu situasi kerja (Mangkunegara, Anwar
Prabu. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, 2005: 128).
4. Distribusi Sumber Daya yang
Tidak Merata
Persaingan atas sumber daya yang
terbatas seperti anggaran, fasilitas, atau tenaga kerja dapat memicu konflik
antar individu maupun antar departemen.
Keterbatasan sumber daya dan distribusinya yang
tidak merata dalam organisasi menjadi salah satu penyebab utama timbulnya
konflik (Handoko, T. Hani. Manajemen, 2003: 210).
5. Ketergantungan Antar Tugas
Dalam organisasi, keberhasilan
suatu unit sering kali bergantung pada unit lain. Ketika satu bagian tidak
menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka bagian lain yang bergantung padanya
akan terdampak, sehingga memunculkan konflik.
Tingkat ketergantungan antar unit
kerja yang tinggi dapat menimbulkan potensi konflik jika koordinasi tidak
berjalan dengan efektif (Robbins, Stephen P., diterjemahkan oleh Benyamin
Molan. Perilaku Organisasi, 2007: 388).
Konflik dalam organisasi tidak selalu dapat
dihindari, namun dapat dikelola dan diselesaikan secara konstruktif melalui
berbagai pendekatan. Menurut Robbins (2006), terdapat lima strategi utama dalam
penyelesaian konflik yang dapat disesuaikan dengan situasi dan karakteristik
pihak-pihak yang terlibat:
1. Menghindar (Avoiding)
Strategi ini dilakukan dengan cara
menarik diri dari konflik atau menunda respon terhadap konflik sampai waktu
yang tepat. Pendekatan ini cocok digunakan ketika masalah yang dihadapi tidak
terlalu penting, atau saat ketegangan masih tinggi dan memerlukan waktu untuk
meredakan emosi. Namun, jika terus menerus dilakukan, strategi ini dapat
memperburuk konflik karena tidak adanya penyelesaian yang jelas.
Menghindar adalah pilihan yang
tepat ketika hasil penyelesaian konflik tidak sebanding dengan risiko atau
energi yang dikeluarkan untuk menyelesaikannya. (Robbins, 2006)
2. Mengakomodasi (Accommodating)
Dalam strategi ini, salah satu
pihak rela mengalah atau menurunkan tuntutannya demi menjaga hubungan yang baik
dengan pihak lain. Strategi ini berguna jika pihak lain berada dalam posisi
yang lebih kuat, atau ketika menjaga keharmonisan hubungan dianggap lebih
penting daripada memenangkan konflik.
Mengakomodasi berarti lebih
mementingkan hubungan interpersonal dibanding kepentingan pribadi.(Robbins,
2006)
3. Kompetisi (Competing)
Pendekatan kompetisi dilakukan
ketika seseorang memaksakan kehendaknya tanpa memperhatikan keinginan pihak
lain. Strategi ini digunakan dalam situasi darurat atau ketika keputusan cepat
harus diambil. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan ketegangan
yang tinggi dan memperburuk hubungan antar individu.
Kompetisi cocok untuk keputusan
mendesak, tetapi dapat menciptakan konflik jangka panjang jika tidak dibarengi
dengan pendekatan lain. (Robbins, 2006)
4. Kompromi (Compromising)
Kompromi melibatkan kedua pihak
untuk saling mengurangi tuntutannya agar mencapai solusi bersama. Strategi ini
efektif ketika kedua pihak memiliki kekuatan yang relatif seimbang dan ingin
mencapai penyelesaian cepat tanpa berlarut-larut.
Kompromi memungkinkan solusi
praktis yang bisa diterima kedua belah pihak, meski tidak ideal untuk jangka
panjang.(Robbins, 2006)
5. Kolaborasi (Collaborating)
Ini adalah pendekatan paling
konstruktif di mana kedua pihak bekerja sama secara terbuka untuk menemukan
solusi yang memuaskan semua pihak. Strategi ini mendorong komunikasi yang
efektif, saling pengertian, dan pencarian solusi yang win-win.
Kolaborasi menekankan kerja sama
dan rasa saling percaya untuk mencapai kepentingan bersama.(Robbins, 2006)
Strategi penyelesaian konflik tidak
dapat dipilih secara sembarangan. Seorang manajer atau pemimpin harus mampu
menganalisis situasi konflik, memahami karakteristik individu yang terlibat,
serta mempertimbangkan dampak jangka panjang dari strategi yang dipilih.
Pemilihan strategi yang tepat akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang
harmonis dan produktif.
Konflik dalam organisasi merupakan suatu proses alami
yang terjadi akibat adanya perbedaan tujuan, nilai, kepentingan, maupun
persepsi antar individu atau kelompok. Konflik tidak selalu bersifat negatif;
jika dikelola dengan baik, konflik dapat menjadi sarana pengembangan
kreativitas, inovasi, serta peningkatan kualitas hubungan kerja. Sebaliknya,
konflik yang tidak terselesaikan dapat mengganggu produktivitas dan menghambat
kinerja organisasi.
Terdapat berbagai jenis konflik dalam organisasi,
mulai dari konflik intrapersonal hingga konflik antar kelompok, yang
dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perbedaan tujuan, komunikasi yang buruk,
serta ketimpangan distribusi sumber daya. Oleh karena itu, organisasi perlu
memahami teori-teori konflik serta strategi penyelesaiannya.
Menurut
Robbins (2006), terdapat lima pendekatan utama dalam menyelesaikan konflik,
yaitu: menghindar, mengakomodasi, bersaing, kompromi, dan kolaborasi. Pemilihan
strategi harus mempertimbangkan konteks, dampak jangka panjang, serta hubungan
antar pihak yang terlibat. Pendekatan kolaboratif sering dianggap sebagai
strategi paling efektif karena menghasilkan win-win solusi .
Konflik
merupakan bagian dari dinamika organisasi yang tidak dapat dihindari. Dengan
memahami penyebab dan menerapkan strategi penyelesaian yang tepat, konflik
dapat menjadi sarana peningkatan kinerja dan kerjasama. Organisasi yang efektif
bukanlah organisasi tanpa konflik, melainkan organisasi yang mampu mengelola
konflik secara positif dan strategis. Dengan pendekatan yang tepat, konflik
dapat dijadikan sarana introspeksi, pemecahan masalah, serta pengembangan diri
dan organisasi secara keseluruhan.
Saran Organisasi perlu memberikan pelatihan manajemen
konflik kepada seluruh anggota agar dapat menyikapi dan menyelesaikan konflik
secara konstruktif. Diperlukan pula peningkatan keterbukaan komunikasi, budaya
kerja yang inklusif, serta kepemimpinan yang responsif terhadap dinamika
interpersonal di lingkungan kerja.
Organisasi perlu menerapkan sistem manajemen konflik yang jelas serta
membekali seluruh anggota, terutama pemimpin, dengan keterampilan komunikasi
dan resolusi konflik. Pemilihan strategi penyelesaian yang tepat harus
disesuaikan dengan kondisi dan tujuan jangka panjang agar tercipta solusi yang
konstruktif dan berkelanjutan.
1.
Peningkatan Pemahaman:
Organisasi
sebaiknya memberikan pelatihan tentang manajemen konflik kepada seluruh lapisan
karyawan agar mereka mampu mengenali potensi konflik sejak dini dan
menanganinya secara efektif.
2.
Penguatan Komunikasi:
Membangun
sistem komunikasi yang terbuka, jelas, dan transparan sangat penting untuk
meminimalisasi kesalahpahaman yang menjadi sumber utama konflik.
3.
Peran Aktif Pemimpin:
Pemimpin
organisasi harus bertindak sebagai fasilitator dalam setiap konflik yang
terjadi dan memastikan proses penyelesaian dilakukan secara adil dan partisipatif.
4.
Kebijakan Manajemen Konflik:
Organisasi
perlu memiliki prosedur dan kebijakan tertulis tentang penanganan konflik agar
ada acuan yang jelas dan konsisten dalam menyikapi setiap perbedaan yang
muncul.
5.
Promosi Budaya Kolaboratif:
Mendorong
budaya kerja yang kolaboratif dan menghargai perbedaan akan membantu
menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif.
Davis, Keith & Newstrom, John W. (1993) Organizational
Behavior: Human Behavior at Work . Penerbit: McGraw-Hill
Handoko, T.
Hani (2003) Manajemen Penerbit:
BPFE Yogyakarta
Mangkunegara, Anwar Prabu (2005) Manajemen Sumber
Daya Manusia Perusahaan Penerbit: Remaja Rosdakarya
Rahardi, R. (2014) Manajemen Konflik: Upaya Penyelesaian
Konflik dalam Organisasi Penerbit: Erlangga
Robbins, Stephen P. (2003 & 2006) Perilaku
Organisasi (diterjemahkan oleh Benyamin Molan) Penerbit: PT Indeks, Jakarta.
Siagian,
Sondang P. (2008) Manajemen Sumber Daya Manusia Penerbit: Bumi Aksara
Sutrisno, Edy (2010) Manajemen Sumber Daya Manusia Penerbit:
Kencana Prenada Media Group
Hakikat Teks Sejarah
Definisi: Teks yang menyajikan peristiwa atau rangkaian peristiwa di masa lampau secara kronologis, faktual, dan memiliki nilai sejarah. Teks sejarah juga dapat menjadi sarana untuk memahami identitas, akar permasalahan, dan pelajaran dari masa lalu.
Perbedaan Teks Sejarah dan Novel Sejarah:
Teks Sejarah (Nonfiksi): Berdasarkan fakta murni, sumber primer/sekunder, objektif, tidak ada unsur rekaan. Tujuan: Memberikan informasi dan interpretasi faktual. Contoh: Buku sejarah, artikel ilmiah.
Novel Sejarah (Fiksi): Berlatar belakang peristiwa sejarah, tetapi di dalamnya terdapat unsur rekaan/imajinasi (tokoh, dialog, konflik) yang digabungkan dengan fakta sejarah. Tujuan: Menghibur, menyajikan perspektif, dan menghidupkan kembali masa lalu secara naratif. Contoh: Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.
Manfaat Mempelajari Teks Sejarah:
Meningkatkan pemahaman tentang peristiwa masa lalu.
Mengembangkan sikap kritis terhadap informasi.
Menghargai nilai-nilai perjuangan dan kebangsaan.
Mampu mengambil hikmah dan pelajaran untuk masa kini dan masa depan.
II. Struktur Teks Sejarah Struktur teks sejarah, baik fiksi maupun nonfiksi, memiliki pola umum:
Pengenalan/Orientasi: Memperkenalkan latar belakang peristiwa, tokoh utama, atau situasi umum yang melatarbelakangi cerita.
Pengungkapan Peristiwa/Komplikasi (pada fiksi): Awal mula masalah atau konflik yang akan berkembang. Dalam nonfiksi, ini bisa berupa latar belakang penyebab terjadinya peristiwa utama.
Klimaks/Puncak Konflik (pada fiksi) / Rekaman Peristiwa Inti (pada nonfiksi): Bagian terpenting yang berisi puncak masalah atau serangkaian peristiwa inti yang diceritakan secara kronologis. Ini adalah bagian yang paling mendebarkan atau paling banyak mengandung informasi krusial.
Resolusi/Penyelesaian (pada fiksi) / Akibat Peristiwa (pada nonfiksi): Hasil atau penyelesaian dari konflik. Dalam nonfiksi, ini adalah dampak atau konsekuensi dari peristiwa yang terjadi.
Koda/Reorientasi (Penutup): Pandangan umum, komentar, pelajaran moral (pada fiksi), atau interpretasi penulis terhadap keseluruhan peristiwa. Bersifat opsional.
III. Kaidah Kebahasaan Teks Sejarah
Keterangan Waktu (Temporal): Pada tahun..., setelah itu, sebelum, ketika, saat itu, pada abad ke-, dll.
Kata Kerja Material: Menunjukkan perbuatan fisik. Contoh: menyerang, membangun, memproklamasikan, menaklukkan, mendirikan.
Kata Kerja Mental: Menunjukkan aktivitas pikiran/perasaan. Contoh: memikirkan, merasakan, menyetujui, berharap, menduga.
Kata Sifat: Untuk mendeskripsikan tokoh, tempat, atau suasana. Contoh: gigih, bijaksana, megah, dramatis, heroik.
Konjungsi Kausalitas (Sebab-Akibat): Karena, sebab, oleh karena itu, akibatnya, sehingga.
Konjungsi Kronologis (Urutan Waktu): Lalu, kemudian, setelah itu, mulanya, akhirnya.
Kata Ganti Orang: Terutama orang ketiga (ia, mereka, -nya) untuk menjaga objektivitas (pada nonfiksi) atau menceritakan karakter (pada fiksi).
Kalimat Langsung dan Tidak Langsung: Digunakan untuk mengutip pernyataan atau perkataan tokoh.
Penggunaan Istilah Sejarah: Menggunakan kosakata yang relevan dengan periode sejarah yang diceritakan.
IV. Langkah-Langkah Menelaah (Menganalisis) Teks Sejarah
Membaca Cepat dan Menyeluruh: Pahami gambaran umum isi teks.
Mengidentifikasi Struktur: Tentukan bagian mana yang merupakan orientasi, urutan peristiwa/komplikasi, resolusi, dan koda.
Mengidentifikasi Tokoh dan Latar: Siapa saja tokoh yang terlibat, di mana dan kapan peristiwa itu terjadi.
Menganalisis Unsur Kebahasaan: Cari dan identifikasi penggunaan keterangan waktu, kata kerja material/mental, konjungsi, dsb.
Menemukan Nilai-Nilai: Identifikasi nilai-nilai moral, sosial, budaya, kepahlawanan, atau pelajaran yang terkandung dalam teks (terutama pada novel sejarah).
Membedakan Fakta dan Opini/Fiksi: Khusus untuk novel sejarah, bedakan mana bagian yang berdasarkan fakta sejarah dan mana yang merupakan rekaan penulis.
Menentukan Tujuan dan Pesan Penulis: Apa yang ingin disampaikan penulis melalui teks tersebut.
V. Langkah-Langkah Menulis Teks Sejarah (Fiksi maupun Nonfiksi)
Menentukan Topik/Tema: Pilih peristiwa atau periode sejarah yang ingin ditulis.
Melakukan Riset Mendalam: Kumpulkan data, fakta, sumber primer dan sekunder yang relevan. Verifikasi keakuratan informasi.
Menyusun Kerangka Tulisan: Buat alur cerita atau kronologi peristiwa.
Untuk nonfiksi: Susun berdasarkan urutan peristiwa faktual.
Untuk fiksi (novel sejarah): Kembangkan tokoh, konflik, dan dialog dengan tetap berpegang pada latar dan fakta sejarah yang relevan.
Menulis Draf: Tuangkan ide ke dalam tulisan, perhatikan struktur dan kaidah kebahasaan.
Pengembangan Cerita (khusus fiksi): Detailkan deskripsi, karakterisasi, dan alur naratif.
Revisi dan Penyuntingan:
Isi: Periksa kebenaran fakta (nonfiksi), kelogisan alur (fiksi), keterkaitan antarparagraf.
Struktur: Pastikan sesuai dengan struktur teks sejarah.
Kebahasaan: Perbaiki ejaan, tanda baca, pilihan kata, dan keefektifan kalimat.
Contoh Analisis Singkat Novel Sejarah:
Novel: Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)
Struktur:
Orientasi:
Pengenalan Minke, seorang pribumi cerdas yang bersekolah di HBS Surabaya pada akhir abad ke-19, serta kehidupannya yang mulai bersentuhan dengan budaya Barat dan permasalahan kolonialisme.
Pengungkapan Peristiwa:
Pertemuan Minke dengan Annelies Mellema dan keluarganya, yang membuka matanya pada ketidakadilan hukum dan sosial di era Hindia Belanda. Minke mulai jatuh cinta pada Annelies.
Klimaks:
Persidangan kasus status Annelies yang diputuskan oleh pengadilan kolonial, di mana Annelies dinyatakan sebagai anak sah dari Nyai Ontosoroh tetapi diwajibkan kembali ke Belanda karena dianggap "anak haram" dan tidak cakap secara hukum. Minke merasa sangat terpukul dengan keputusan ini.
Resolusi:
Annelies harus pergi ke Belanda, meninggalkan Minke dan Nyai Ontosoroh. Minke menyadari betapa kejamnya hukum kolonial dan mulai memikirkan perjuangan bangsanya.
Koda:
Meskipun sedih, Minke bertekad untuk terus berjuang demi keadilan dan harga diri bangsanya, menanamkan benih-benih nasionalisme di kalangan pribumi.
Kaidah Kebahasaan yang Menonjol:
Banyak menggunakan kata kerja mental untuk menggambarkan perasaan dan pemikiran Minke (misalnya, merasa, menyadari, memikirkan, bertekad).
Penggunaan kata sifat yang kaya untuk mendeskripsikan suasana, karakter, dan emosi (misalnya, cerdas, kejam, terpukul, lugu, angkuh).
Keterangan waktu yang akurat untuk latar belakang sejarah (akhir abad ke-19, tahun 1890-an).
Penggunaan dialog yang mendalam dan reflektif antar tokoh.
A. Ciri-Ciri Teks Sejarah:
Faktual: Berdasarkan data dan bukti yang akurat dari masa lalu.
Kronologis: Disajikan secara berurutan sesuai waktu kejadian.
Objektif (diupayakan): Penulis berusaha menyajikan peristiwa tanpa memihak atau terpengaruh pandangan pribadi.
Memiliki Nilai Sejarah: Peristiwa yang diceritakan memiliki dampak atau makna penting bagi perkembangan masyarakat.
Interpretatif: Penulis dapat memberikan interpretasi atau analisis terhadap fakta-fakta yang ada.
Memuat Unsur 5W+1H: Menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.
B. Struktur Teks Sejarah:
Orientasi: Pengenalan tentang topik, latar belakang, tokoh, atau waktu peristiwa yang akan diceritakan. Bagian ini berfungsi untuk membangun konteks bagi pembaca.
Urutan Peristiwa (Rekaman Peristiwa): Bagian inti yang menyajikan rangkaian peristiwa secara kronologis. Setiap peristiwa dijelaskan secara detail, termasuk sebab-akibat dan tokoh yang terlibat.
Reorientasi (Penutup/Simpulan): Berisi pandangan umum penulis terhadap peristiwa yang diceritakan, nilai-nilai, hikmah, atau dampak yang ditimbulkan dari peristiwa sejarah tersebut. Bagian ini bersifat opsional, namun seringkali memperkaya makna teks.
C. Kebahasaan Teks Sejarah:
Keterangan Waktu (Temporal): Menggunakan kata-kata seperti pada saat itu, kemudian, setelah itu, sebelum, ketika, pada tahun, dll. untuk menunjukkan urutan waktu.
Kata Kerja Material: Kata kerja yang menunjukkan tindakan fisik, seperti memimpin, membangun, menaklukkan, menyerang, memproklamasikan, dll.
Kata Kerja Mental: Kata kerja yang menunjukkan aktivitas pikiran atau perasaan, seperti memikirkan, merasa, memahami, menduga, mengharapkan, dll.
Kata Sifat: Digunakan untuk mendeskripsikan tokoh, tempat, atau suasana, seperti berani, bijaksana, megah, damai, dll.
Kata Hubung Konjungsi Kausalitas: Menunjukkan hubungan sebab-akibat, seperti karena, sebab, oleh karena itu, akibatnya, dll.
Kata Hubung Konjungsi Kronologis: Menunjukkan urutan waktu, seperti lalu, kemudian, setelah itu, sebelum itu, mula-mula, akhirnya, dll.
Kalimat Langsung dan Tidak Langsung: Dapat ditemukan kutipan langsung dari sumber atau pernyataan yang telah diubah menjadi kalimat tidak langsung.
Majas: Terkadang digunakan untuk memperindah bahasa atau memberikan penekanan, meskipun dalam teks sejarah penggunaannya lebih terbatas dibandingkan karya sastra.
D. Jenis Teks Sejarah: Secara umum, teks sejarah dapat dibagi menjadi:
Sejarah Non-Fiksi: Bersifat ilmiah, faktual, dan objektif, seperti buku sejarah, jurnal penelitian, artikel sejarah, atau laporan sejarah.
Sejarah Fiksi: Mengandung unsur rekaan atau imajinasi penulis, meskipun berlatar belakang peristiwa sejarah. Contohnya novel sejarah, cerita pendek sejarah, atau drama sejarah. Meskipun ada unsur fiksi, biasanya tetap berpegang pada fakta dasar sejarah.
E. Langkah-Langkah Menulis Teks Sejarah:
Menentukan Topik: Pilih peristiwa sejarah yang menarik dan memiliki cukup sumber.
Mengumpulkan Sumber: Cari data dan informasi dari berbagai sumber kredibel (buku, arsip, wawancara, dokumen, dll.).
Verifikasi Sumber (Kritik Sumber): Menilai keaslian dan kredibilitas sumber yang didapatkan.
Menyusun Kerangka: Buat kerangka tulisan yang meliputi orientasi, urutan peristiwa, dan reorientasi.
Menulis Draf: Kembangkan kerangka menjadi tulisan lengkap dengan memperhatikan kaidah kebahasaan.
Revisi dan Menyunting: Periksa kembali isi, struktur, dan kebahasaan teks.
Memahami teks sejarah tidak hanya tentang menghafal tanggal dan nama, tetapi juga memahami mengapa peristiwa itu terjadi, bagaimana dampaknya, dan apa pelajaran yang bisa diambil dari masa lalu untuk masa kini dan masa depan.
Contoh Teks Sejarah Singkat (Non-Fiksi): Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Orientasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah salah satu momen paling krusial dalam sejarah bangsa. Peristiwa ini menandai berakhirnya masa penjajahan dan dimulainya era baru bagi rakyat Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri setelah berabad-abad di bawah dominasi asing.
Urutan Peristiwa Jepang Menyerah: Situasi politik global pada pertengahan tahun 1945 sangat dinamis. Pada 6 dan 9 Agustus 1945, kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang dijatuhi bom atom oleh Sekutu. Akibatnya, pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang secara resmi menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Berita kekalahan Jepang ini menyebar dengan cepat dan menciptakan kekosongan kekuasaan di Indonesia.
Peristiwa Rengasdengklok: Golongan muda, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Chairul Saleh dan Sukarni, mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Mereka merasa bahwa kesempatan ini harus segera diambil sebelum Sekutu kembali menduduki Indonesia. Karena adanya perbedaan pendapat mengenai waktu proklamasi, pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, Soekarno dan Hatta diculik oleh golongan muda ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang dan memastikan proklamasi dapat segera dilaksanakan.
Penyusunan Teks Proklamasi: Setelah melalui perundingan alot, akhirnya Soekarno dan Hatta setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan. Mereka kembali ke Jakarta pada malam harinya. Kemudian, di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta, dirumuskanlah teks proklamasi kemerdekaan. Pada saat itu, Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo menyusun kalimat-kalimat yang singkat, padat, dan jelas.
Pembacaan Proklamasi: Akhirnya, pada Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 pagi, bertempat di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta, Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di hadapan rakyat yang telah berkumpul. Setelah itu, Sang Saka Merah Putih dikibarkan diiringi lagu Indonesia Raya. Peristiwa ini menandai lahirnya negara Republik Indonesia.
Reorientasi Proklamasi Kemerdekaan bukan hanya sekadar pembacaan teks, melainkan puncak dari perjuangan panjang bangsa Indonesia melawan penjajahan. Peristiwa ini menanamkan semangat nasionalisme dan menjadi fondasi utama bagi kemerdekaan Indonesia. Melalui proklamasi, bangsa Indonesia menegaskan eksistensinya sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka di mata dunia.
Analisis Contoh Teks Berdasarkan Rangkuman:
Ciri-Ciri: Faktual (tanggal, nama tokoh, lokasi), Kronologis (berurutan dari menyerahnya Jepang hingga pembacaan proklamasi), Memiliki nilai sejarah (fondasi negara), Memuat 5W+1H (Apa: Proklamasi, Siapa: Soekarno, Hatta, dsb., Kapan: 17 Agustus 1945, Di mana: Jakarta, Mengapa: Kekosongan kekuasaan, Bagaimana: Dirumuskan, dibacakan).
Struktur:
Orientasi: Paragraf 1 (pengenalan proklamasi sebagai momen krusial).
Urutan Peristiwa: Paragraf 2, 3, 4, 5 (penyerahan Jepang, Rengasdengklok, penyusunan teks, pembacaan).
Reorientasi: Paragraf 6 (makna dan dampak proklamasi).
Kebahasaan:
Keterangan Waktu: pada 17 Agustus 1945, pada pertengahan tahun 1945, pada 6 dan 9 Agustus 1945, pada tanggal 15 Agustus 1945, pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, pada malam harinya, pada saat itu, pada Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 pagi, setelah itu.
Kata Kerja Material: menandai, dijatuhi, menyerah, mendesak, diculik, menjauhkan, memastikan, kembali, dirumuskanlah, menyusun, membacakan, dikibarkan.
Kata Kerja Mental: merasa, memproklamasikan, memahami, menegaskan.
Kata Sifat: krusial, dinamis, singkat, padat, jelas, panjang, berdaulat, merdeka.
Konjungsi Kausalitas: Akibatnya, karena.
Konjungsi Kronologis: Kemudian, setelah itu, akhirnya.
Materi kelas XII ini mengajak siswa untuk tidak hanya memahami teks sejarah, tetapi juga mampu mengapresiasi, menganalisis, dan bahkan menciptakan narasi sejarah mereka sendiri, baik dalam bentuk faktual maupun fiksi, dengan tetap berpegang pada kaidah penulisan yang benar.
Pengertian Puisi
Menurut Pipin
Pirmansyah Pengertian puisi adalah
tulisan yang disusun sedemikian rupa menggunakan susunan kata estetis kaya akan
makna dapat menggugah hati serta menggerakan hati pembacanya dalam bentuk
pesan, amanat atau pembentuk suasana hati semata.
Jenis-Jenis Puisi
Secara umum, puisi dibagi menjadi dua kategori
besar:
1. Puisi Lama
Puisi lama
adalah jenis puisi yang berkembang pada masa lampau dan terikat oleh
aturan-aturan tertentu seperti:
Jumlah
baris dalam tiap bait
Jumlah
suku kata dalam setiap baris
Pola
rima atau sajak (misalnya a-b-a-b atau a-a-a-a)
Irama
atau ritme tertentu
Disampaikan
secara lisan dan anonim (pengarangnya sering tidak diketahui)
Puisi lama umumnya
digunakan dalam upacara adat, pendidikan, hiburan, maupun petuah moral.
Jenis-Jenis
Puisi Lama
1. Pantun
Pantun
adalah puisi lama yang terdiri dari empat baris, dengan sajak a-b-a-b, dan tiap
baris terdiri dari 8–12 suku kata. Pantun terbagi dua bagian:
Sampiran
(baris 1 dan 2): tidak memiliki hubungan langsung dengan isi, berfungsi sebagai
pembuka.
Isi (baris 3 dan
4): menyampaikan maksud atau pesan.
Contoh Pantun:
Burung merpati
terbang ke awan,
Hinggap sebentar di
pohon jati.
Bila ingin menjadi
teman,
Jujur dan tuluslah
dalam hati.
2. Gurindam
Gurindam adalah
puisi lama yang terdiri dari dua baris dalam satu bait, dengan sajak a-a. Baris
pertama biasanya berisi sebab, dan baris kedua adalah akibat atau nasihat.
Contoh Gurindam:
Barang
siapa mengenal Tuhan,
Suruh
dan larangnya tiada ia enggan.
3. Syair
Syair adalah puisi
lama yang terdiri dari empat baris tiap bait, dengan sajak a-a-a-a. Keempat
baris dalam syair merupakan isi (tidak ada sampiran seperti pantun), dan
biasanya mengandung cerita, petuah, atau ajaran.
Contoh Syair:
Jika anak pergi ke
sekolah,
Ibu bapak hendaklah
berbetah,
Bersungguh-sungguh
supaya mudah,
Menuntut ilmu
janganlah lelah.
4. Mantra
Mantra adalah jenis
puisi lama yang digunakan dalam upacara adat atau kegiatan spiritual. Biasanya
berfungsi sebagai doa, jampi-jampi, atau pengaruh magis, dan memiliki bunyi
atau pengulangan kata yang khas.
Contoh Mantra:
Air putih
kupecahkan,
Gelombang laut
kujalankan,
Angin timur
kuberikan,
Semoga hajat
terkabulkan.
2. Puisi Baru
Puisi yang lebih
bebas dalam struktur, tidak terlalu terikat aturan. Jenis-jenis puisi baru
antara lain:
1.
Balada: Berisi kisah atau cerita.
2.
Ode: Berisi pujian atau sanjungan
terhadap seseorang.
3.
Himne: Puisi yang bersifat
religius atau sakral.
4.
Elegi: Puisi tentang kesedihan
atau duka cita.
5.
Epigram: Puisi yang mengandung
pesan moral atau nasihat.
6.
Romansa: Menekankan perasaan cinta
dan kasih sayang.
7.
Puisi Kontemporer: Puisi yang
berkembang di zaman modern dengan bentuk dan gaya yang sangat bebas.
Kumpulan Puisi Pipin Pirmansyah
Andai Kursi Kosong Bicara
Kursi-kursi kosong ini telah lama tak diduduki
penerus bangsa
Seandainya kursi itu seperti kita bisa hidup,
Kursi-kursi kosong ini mungkin bicara
“Kemanakah anak-anak ini, tiap pagi sampai
sore bersama,
sekarang tak duduk bersama,
kosong adanya”
Aku merasa sepi…
penerus bangsa pada kemana…
Jangan biarkan aku tanpamu
Jangan biarkan berlama-lama…
Sampai kapan aku dipisahkan…
Aku kosong tak ada makna
cita-cita sudah tak berdaya
Aku kosong tak ada kata
Tak ada kata untuk bicara
Yang ada hanya asa
Asa yang sia-sia
Sebuah Wayang Dalam Hening Malam
Dalam hening malam
terlintas sebuah bayangan
seseorang mencoret raut muka sebuah wayang
bahkan menoreh luka yang mendalam pada wayang
terpandang
sepertinya...
dia sudah tidak sayang pada wayang
padahal wayang itu tak membayangkan
sekelumit perjalanan panjang yang akan
menghantam
penghianatan yang membekas pada kening
yang tak akan jadi kenang
aku terperanjat dari bayangan
bayangan wayang itu melayang
pergi ke kayangan
aneh apakah ini hanya hayalan
atau mungkin kenyataan
Senjaku Menggugah Rindu
Semburat indah warna senja
Tersenyum simpul di ufuk barat
Senyumannya membuat bahagia
hilangkan penat menyengat
Sekeping rindu disampul larik
Diikat diksi indah nan cantik
Ada rindu berbait-bait
Memesona syair berkait
Senja kau menggugah hati
Senjaku...
rindu ini aku ramu
dan ku seduhankan puisi untukmu
agar kau tetap mengenangku
Senja telah mengukir kenanganku
Saat nyanyikan lagu denganmu
Gelora membuncah di kalbu
Menderu dalam lukisan rindu
Alunan Harmonisasi Bambu
Kualunkan nada bambu perkusi
sederhana namun penuh tradisi
nada-nada cantik memberikan harmonisasi
tak akan tergerus zaman modernisasi
Walau bambu tapi hasilkan inspirasi
tak ragu…
ku tabuh dan kumainkan sambil tersenyum manis
nada pun diramu indahnya seni
Mengeja Rintikmu
Dalam rinai hujan
Ku mengeja rintikmu
Ku tiup awan hitam gelapmu
Agar senyum indahmu mengalir dalam jiwa
menyatu
Nyanyian rintikmu melagu rindu
disaat pilu menggebu menderu
Menyibakkan warna kelabu
Hujan Pagi Januari
Tik tik tik hujan bertasbih
bumi pertiwi menyambut rezeki
datang dari Ilahi
Tak biasa rintik hujan pagi
Semoga anugerah dunia ini
Allah maha pemberi
Bagi segala insani
🔗 Referensi
Kumpulan puisi di atas dapat ditemukan di blog
pribadi Pipin Pirmansyah: pipinpirmansyah.blogspot.com.
pipinpirmansyah.blogspot.com